Kota Klaten

hallo… Blogers kali ini saya akan sedikit  mengulas tentang salah satu kota dan kebudayaan yang ada diIndonesia, kota ini berada diprovinsi jawa tengah yaitu kota klaten, kenapa saya mengulas salah satu kota yang cantik, ini supaya blogers tau kalau klaten juga punya kebudayaan dan tradisi unik seperti dikota-kota lain.

A.Kondisi Geografis

Kabupaten Klaten adalah sebuah Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Klaten. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Boyolali di utara, Kabupaten Sukoharjo di timur, serta Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta di selatan dan barat. Komplek Candi Prambanan, salah satu komplek Candi Hindu terbesar di Indonesia, berada di Kabupaten Klaten. Sebagian besar wilayah Kabupaten ini adalah dataran rendah dan tanah bergelombang. Bagian barat laut merupakan pegunungan, bagian dari sistem Gunung Merapi. Ibukota Kabupaten ini berada di jalur utama Solo – Yogya

  1. Kependudukan

Penduduk Kabupaten Klaten sampai dengan tahun 2016 adalah 1.311.019 jiwa. Dengan luas wilayah 655,56 km2 maka kepadatan penduduk per kilometer persegi adalah 2.000 jiwa.

  1. Jumlah Penduduk dan Obyek Pajak Kendaraan Bermotor
  2. Jumlah Penduduk : 1.311.019Jiwa
  3. Kepadatan Penduduk : 2000 Jiwa/Km²
  4. Jumlah Obyek Kendaraan Bermotor : 405.719 Unit

Masyarakat Peran Pemuda Dalam Membangun Desa Sebagai Motor Negara Proporsi jumlah masyarakat desa dan kota hampir seimbang, hanya berbeda sekian persen. Jika mampu dikelola dengan baik, sejatinya desa bisa menjadi motor penggerak ekonomi suatu negara. Menurut catatan Kompas.com, pada tahun 2012 penduduk Indonesia yang tinggal di perkotaan mencapai 54%. Jika ada 240 juta penduduk Indonesia, artinya paling sedikit ada 129,6 juta orang yang tinggal di kota. Jumlah ini pun semakin hari semakin meningkat. Tidak lain tidak bukan disebabkan oleh urbanisasi. Ketersediaan infrastruktur, ekonomi yang menggeliat serta daya tarik gemerlapnya kota menjadi magnet tersendiri yang membuat banyak orang lebih memilih tinggal di kota.

Akhirnya, saat ini desa ditinggalkan oleh penduduknya, terutama yang berusia muda yang kebanyakan merantau ke kota. Bisa dihitung, berapa banyak pemuda dari desa yang kuliah di kota, kemudian setelah lulus memilih berkarir di kota. Akhirnya, desa lebih banyak dihuni orang-orang tua, yang berprofesi sebagai petani, penderes nira, pekebun, dan sebagainya. Padahal kemajuan suatu desa memerlukan urun tangan para pemudanya. Pengamatan penulis, yang saat ini masih menjabat status sebagai “mahasiswa”, banyak sekali kakak angkatan yang setelah lulus memilih bekerja di kota. Bisa dihitung mereka yang akhirnya kembali ke desa dan membangun desanya. Alasannya pun sederhana, di kota lebih mudah mencari uang dibanding di desa.

Hal ini harusnya menjadi perhatian, bagi pemerintah, lembaga sosial masyarakat, dan bagi para pemudanya sendiri. Potensi di pedesaan jauh lebih besar. Meskipun fasilitas infrastrukturnya masih kurang. Masing-masing desa memiliki karakter tersendiri yang membedakannya dengan desa lain. Ada desa yang berpotensi sebagai desa bahari, desa wisata, desa wisata pegunungan, desa wisata pantai, desa wisata hutan, desa pertanian, desa perkebunan, desa peternakan, desa perhutangan, dan sebagainya. Kalau mampu dikelola dengan baik, tentunya kemakmuran warga desa bisa meningkat. Sebagai contoh, desa di pesisir Kebumen, terutama di Petanahan, yang merupakan sentra perkebunan Pepaya Calina di Jawa Tengah. Disana hampir semua petaninya menanam pepaya Calina, atau yang biasa kita kenal dengan pepaya California. Kalau potensi ini bisa digarap dengan baik, tentu saja bisa menjadikannya sebagai laboratorium bagi para akademisi yang ingin meneliti tentang penanaman pepaya di lahan pesisir. Ada juga, desa sejenis di Purwokerto, desa Karanggude Kulon namanya, yang juga mengembangkan perkebunan pepaya Calina. Bedanya, lahan disini ditanam di lahan yang berada di kaki gunung Slamet. Berbeda dengan lahan di Petanahan yang merupakan lahan pesisir, lahan di Purwokerto merupakan lahan kaki gunung, yang tentu saja kadar unsur haranya pun berbeda. Keduanya memiliki persamaan, yaitu bisa dikembangkan menjadi desa wisata pertanian pepaya Calina, laboratorium hidup, dan berpotensi pula menjadi pusat ekonomi usaha pepaya Calina dan produk olahannya. Banyaknya pemuda yang merantau ke kota tentunya merupakan peluang tersendiri bagi mereka yang ingin berkarir di desa. Sedikitnya pemuda terpelajar di desa merupakan kekuatan tersendiri untuk membangun desa menjadi lebih baik. Pada akhirnya, apabila desa mampu berdiri secara mandiri, artinya segala macam produknya tidak harus disuplai dari kota, maka kemakmuran pun akan datang ke desa. Bila sudah makmur, urbanisasi pun dapat ditekan.

Kebudayaan

Upacara Adat Di Kabupaten Klaten

Klaten adalah sebuah kabupaten di antara DI Yogyakarta dan Kota Solo. Kabupaten dengan luas wilayah mencapai 665,56 km² ini memiliki ciri geografis yang cukup beragam dan terhitung komplit, kecuali kawasan laut atau pantai tentunya. Di bagian barat kabupaten ini berbatasan langsung dengan Provinsi DIY. Di kawasan itu, Klaten memiliki kekayaan berupa bangunan-bangunan peninggalan bersejarah seperti Candi Prambanan dan juga Candi Sewu. Di bagian utara yang berbatasan dengan Boyolali dan DIY, kabupaten ini memiliki kawasan sejuk karena berada di lereng Gunung Merapi. Di bagian timur laut yang berbatasan dengan Sukoharjo dan Boyolali kawasan ini memiliki kekayaan alam berupa sumber-sumber air seperti Umbul Ingas atau Cokro. Sementara di bagian selatan hingga barat daya dimana terbentang area perbukitan kabupaten ini berbatasan langsung dengan kawasan Gunung Kidul, DIY. Potensi alam yang dimiliki Kabupaten Klaten Jawa Tengah ini ternyata juga mendukung terbentuknya berbagai tradisi yang tersebar dalam masyarakat yang hidup didalamnya. Karena itu, bisa dikatakan bahwa selain kaya dengan objek wisata, Klaten juga kaya akan tradisi budaya. Tidak bisa dipungkiri bahwa objek wisata Klaten tidak melulu tujuan-tujuan wisata alam dan peninggalan, seperti objek wisata Rowo Jombor atau kompleks Candi Prambanan saja. Banyak juga tradisi budaya berupa upacara adat menjadi keistimewaan yang hanya dimiliki kabupaten yang terbagi dalam tiga wilayah kecamatan ini. Bahkan, beberapa upacara adat di Kabupaten Klaten bisa dikatakan telah menjadi referensi utama bagi mereka yang ingin mengenal upacara adat Jawa Tengah lebih jauh. Tradisi seperti Yaqowiyu misalnya, tradisi warisan Ki Ageng Gribig ini telah menjelma menjadi upacara adat yang selalu ramai dikunjungi ribuan wisatawan lokal dari berbagai daerah setiap tahunnya. Informasi tentang upacara adat Klaten bisa dijumpai dengan mudah dengan mencarinya di internet.

Blog, website, hingga portal-portal berita yang ada banyak memuat artikel tentang apa, bagaimana, kapan, dimana, dan siapa menyangkut upacara adat Kabupaten Klaten. Chic:Id.Com disini ingin mencoba lebih detil lagi dengan menyediakan informasi persis kapan dan selanjutnya upacara-upacara adat yang telah menjadi objek unggulan wisata Klaten Jawa Tengah akan digelar. Berikut adalah urutan upacara adat di Kabupaten Klaten yang disusun dengan menggunakan perhitungan Jawa dari awal bulan Suro hingga akhir bulan Besar: Setiap Jum’at Kliwon atau Jum’at Wage di Bulan Suro, Upacara Bersih Desa Tanjungsari, Dlimas, Ceper Upacara adat bersih desa Tanjungsari di Dusun Dlimas, Desa Dlimas, terkenal dengan adanya tanggapan Tari Tayub dalam setiap gelarannya. Selain itu tradisi ini juga terkenal karena warga menggelar selamatan berupa kendurian di bawah pohon Tanjung di salah satu sudut desa yang berbatasan dengan Pabrik Gula Ceper itu.

Setiap hari Jum’at di Pertengahan Bulan Sapar, Saparan Yaqowiyu di Jatinom Upacara adat sebar berton-ton kue apem yang terbuat dari tepung beras ini rutin digelar selepas ibadah salat Jum’at di kompleks Masjid Besar Jatinom. Bulan Sapar adalah bulan penyelenggaraan tradisi unik yang selalu dibajiri ribuan hingga puluhan ribu warga ini. Karena itu, tradisi ini juga sering dinamakan sebagai tradisi Saparan.

Sehari Sebelum Hari Raya Nyepi, Upacara Keagamaan Tawur Agung Kesanga di Candi Prambanan Tawur Agung yang merupakan upacara penyucian sebelum memasuki Hari Raya Nyepi bagi umat beragama Hindu adalah salah satu upacara keagamaan yang digelar di situs penting Candi Prambanan. Selama upacara keagamaan ini berlangsung, operasional Candi Prambanan biasa tetap terbuka bagi wisatawan. Karena itu, mengunjungi Candi Prambanan di saat seperti ini pengunjung akan mendapatkan pemandangan peristiwa budaya dan agama secara bersamaan. Karena tidak hanya prosesi ritual keagamaan yang akan digelar di sana, tetapi juga sajian berbagai pertunjukan seni Pulau Dewata biasa dipertunjukan.

Setiap 27 Bulan Ruwah, Tradisi Jodangan Sadranan Sunan Pandanaran di Bayat Bulan Ruwah bulan menjelang bulan Ramadan atau Pasa menjadi bulan dimana tradisi sadranan digelar. Tradisi berziarah ke makam leluhur ini juga diperingati di kompleks makam ulama besar Sunan Pandanaran di Desa Paseban, Bayat. Prosesi yang juga dikenal dengan Haul Agung ini khas dengan tradisi kirabjodangan berisi nasi kenduri menaiki anak tangga menuju pemakaman dan juga pasang langse atau mengganti kain penutup makam.

Hari Terakhir Bulan Ruwah, Tradisi Padusan di Umbul Ingas Cokro Tulung Memasuki bulan Ramadan atau Pasa juga khas dengan ritual padusan (mandi) yang sering dilaksanakan dilokasi wisata air. Tradisi padusan yang dipercaya sebagai ritual membersihkan diri menjelang berpuasa juga ramai di Umbul Cokro. Di saat-saat seperti itu, kawasan yang kini dikenal dengan nama OMAC atau objek mata air Cokro itu akan dipadati ribuan pengunjung dari berbagai daerah.

Setiap 8 Syawal atau Seminggu Setelah Idul Fitri, Tradisi Grebeg Syawalan Bukit Sidoguro Bulan Syawal yang khas dikenal sebagai bulan ketupat menjadi waktu pelaksanaan tradisi gunungan ketupat di kawasan wisata Bukit Sidoguro, Desa Krakitan, Bayat. Puluhan hingga ratusan gunungan ketupat tak jarang dibuat khusus untuk meramaikan tradisi ini. Hingga akhirnya ketupat-ketupat itu akan diperebutkan warga dan pengunjung yang hadir.

Setiap Musim Panen Padi Kedua Atau Panen Raya Antara Bulan Juli – September, Bersih Desa Sendang Sinongko di Pokak, Ceper Tradisi unik berupa kendurian, penyembelihan kambing dan ayam yang kadang berjumlah hingga ratusan ekor di bawah pohon di kawasan Sendang Sinongko rutin digelar warga Pokak setelah mereka melaksanakan panen raya. Tradisi sebagai ucapan syukur ini biasa jatuh di musim kemarau di antara bulan Juli hingga September.

apa kaitannya wacana diatas dengan perkembangan zaman saat ini? semua yang ada dalam tradisi nenek moyang harus kita tetap lestarikan, karna tradisi merupakan warisan budaya yang memiliki ciri khas setiap daerah dan khususnya setiap negara. untuk itu kita sebagai penerus bangsa tidak boleh melunturkan tradisi yang sudah dipertahankan hingga sekarang.

Sumber : UP3AD Kab. Klaten

About suhendraroby

saya seorang CEPERIST

Posted on September 29, 2016, in Indonesia_people. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: