Perbedaan 2 budaya diIndonesia

BAB I

PENDAHULUAN

Kali ini saya akan membahas tentang dua kebudayaan yang berbeda di negara yang kita cintai ini yaitu negara Indonesia. Kedua budaya tersebut yaitu budaya dari Gorontalo dan budaya dari Papua. Kenapa saya memilih kedua budaya tersebut. Karena saya ingin mengetahui perbedaan diantara kedua budaya ini. Saya yakin di antara kedua budaya ini memiliki keunikan dari masing-masing daerahnya yang bisa kita ingat. Yang saya ingin ketahui disini salah satunya budaya dari leluhur, supaya kita tetap bisa melestarikannya.

BAB II

TEORI

Budaya Provinsi GORONTALO

Potret sehari hari masyarakat Gorontalo dikenal sangat kental dengan paduan nuansa adat dan agama. Cerminan realitas tersebut terkristalisasi dalam ungkapan “Adat Bersendi Syara, Syara Bersendi Kitabullah”. Filosofi hidup ini selaras dengan dinamika masyarakat yang semakin terbuka, modern, dan demokratis. Dalam proses sosialisasi dan komunikasi keseharian masyarakat Gorontalo, selain menggunakan Bahasa Indonesia juga menggunakan pula Bahasa Gorontalo (Hulondalo). Bahasa daerah ini tidak ditinggalkan, kecuali sebagai salah satu kekayaan budaya, penggunaannya memberi label cirri khas Provinsi Gorontalo.

Ciri khas budaya Gorontalo juga dapat dilihat pada makanan khas, rumah adat, kesenian, dan hasil kerajinan tangan Gorontalo. Diantaranya adalah kerajinan sulaman “Kerawang” dan anyaman “Upiya Karanji” atau Kopiah Keranjang yang terbuat dari bahan rotan. Kopiah Keranjang ini belakangan makin populer di Indonesia. Suku-suku yang bermukim di Kabupaten Boalemo, terdiri dari suku Gorontalo, Jawa, Sunda, Madura, Bali, NTB. Selain itu terdapat juga suku Bajo yang hidup berkelompok di suatu perkampungan di Desa Bajo, Kecamatan Tilamuta dan Desa Torisiaje, Kecamatan Popayato. Mereka tinggal di laut dengan mendiami bangunan rumah di atas air.

Di desa Karengetan Kecamatan Paguat dan Desa Londoun Kecamatan Popayato terdapat perkampungan Suku Sangihe Talaud. Suku ini sudah berpuluh-puluh tahun tinggal di desa tersebut dan telah membaur secara harmonis dengan suku Gorontalo pada umunya dan Boalemo pada khususnya dengan tetap tidak meninggalkan budaya dan adat asal. Suku Minahasa dapat di temukan di Desa Kaarwuyan, Kecamatan Paguat.

Sebagaimana etnis lainnya yang telah berpuluh-puluh tahun tinggal disini, mereka pada umunya telah berbaur dengan masyarakat Boalemo dan Gorontalo pada umumnya juga tidak lupa untuk tidak meninggalkan adat dan budaya asal.

  1. Pendidikan

Pendidikan sangat diperlukan oleh setiap penduduk, bahkan setiap penduduk berhak untuk dapat mengenyam pendidikan khususnya penduduk usia sekolah (7-24 tahun). Keberhasilan pendidikan sangat dipengaruhi oleh tersedianya sarana dan prasarana pendidikan seperti sekolah dan tenaga pendidikan (Guru) yang memadai.

Berdasarkan data tahun 2007 yang diperoleh, jumlah Sekolah Dasar ada 910 Sekolah, dengan total 145.234 murid dan 7.140 Guru. Jumlah Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) ada 284 Sekolah, 44.648 murid dan 4.169 guru. Jumlah Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) ada 91 sekolah, 28.849 murid dan 1.662 guru.

  1. Kesehatan

Dilihat dari sarana dan prasarana kesehatan, di Provinsi Gorontalo terdapat 7 Rumah Sakit yang terdiri dari 6 Rumah Sakit pemerintah dan 1 Rumah Sakit Swasta.

Sarana dan Prasarana kesehatan di tingkat kecamatan diwakili dengan adanya keberadaan Pusat Kesehatan Masyarakat (PUSKESMAS). Pada tahun 2007 tercatat terdapat 57 Puskesmas yang dibantu dengan 252 Puskesmas Pembantu dan 62 Puskesmas Keliling.

  1. Agama

Berdasarkan data 2007 yang ada 97,5% penduduk di Provinsi Gorontalo memeluk agama Islam, sedangkan pemeluk agama Protestan ada sebanyak 1,3% dan selebihnya ± 1% memeluk agama Katolik, Hindu dan Budha.

  1. Hukum

Berdasarkan registrasi pada tahun 2007 terdapat 520 perkara pidana. Hal ini menunjukan penurunan sebesar 15,03% dibandingkan perkara pidana pada tahun sebelumnya.

Pada tahun 2007 terdapat sebanyak 376 narapidana, 94,31% di antaranya adalah laki-laki dan jenis kejahatan yang dilakukan paling banyak adalah kesusilaan.

Budaya PAPUA (kebudayaan Arfak)

Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya, masyarakat serta suku yang berbeda. Hal ini bisa kita lihat dari perbedaan suku, masyarakat, ras,agama yang membentang seluas archipelago indonesia dari sabang sampai merauke. Merupakan sebuah kesalahan besar apabila kita sebagai masyarakat indonesia, hanya acuh dan tidak mempelajari kebudayaan-kebudayaan yang beragam yang terdapat di indonesia. Penulis memilih kebudayaan arfak papua, karena propinsi papua diIndonesia merupakan sebuah propinsi yang unik. Propinsi yang sering kali dianggap sebelah mata oleh orang orang karena mereka masyarakat papua yang masih primitif. Namun di balik anggapan primitif itu, masyarakat papua merupakan salah satu masyarakat yang masih memegang teguh budayanya, budaya asli indonesia yang belum tercemar oleh pengaruh dari negara-negara barat.

Adat istiadat orang papua yang masih diperthankan sampai saat ini oleh suku-suku yang mendiami kepulauan papua,antara lain:

Adat istiadat:

  • Didaerah ini masih banyak orang yang mengenakan holim(koteka)(penutup penis) yang terbuat dari kunden kuning dan para wanita menggunakan pakaian wah berasal dari rumput/serat.
  • Masyarakat dani percaya pada kekuatan gaib,roh leluhur dan roh-roh kerabat yang telah meninggal.
  • Hubungan antara orangnya yang masih hidup dengan roh leluhur dan roh orang yang telah meninggal lainnya dilakukan melalui upacara.
  • Berduka : memutus jari dan melumuri muka dengan tanahliat ketika berduka.
  • Perkampungan tradisional diwamena dengan unsur-unsur unit bangunan yang dinamakan: rumah laki-laki(honei/pilamo), rumah perempuan)ebe-ae/ebet),dapur(hunila) dan kandang babi(wamdabu/wamai).

Kasus sosial:

  1. Konflik ini dimulai ketika seorang anak suku damai meninggal dunia dan suku dani dituduh sebagai pembunuhnya.
  2. Tanda “gencatan senjata” berupa mematahkan panah dan meanah anak babi dimasing-masing kubu.
  3. Pembayaran denda untuk menyelesaikan masalah.

Proses sosial:

Proses sosial adalah cara-cara berhubungan yang dilihat apabila orang perorangan dan kelompoknya saling bertemu dan menentukan sistem serta bentuk-bentuk hubungan tersebut atau apa yang akan terjadi apabila ada perubahan-perubahan yang menyebabkan goyahnya pola-pola kehidupan yang telah ada.

Proses sosial dapat diartikan sebagai pengaruh timbal balik antara pelbagi segi kehidupan bersama, misalnya pengaruh mempengaruhi antara sosial dengan politik, politik dengan ekonomi, ekonomi dengan hukum.

Sistem kehidupan sosial masyarakat papua:

Kelompok asli dipapua terdiri atas 193 suku yang masing-masing berbeda. Tribal arts yang indah dan terkenal didunia oleh suku asmat, ka maro, dani dan sentani. Sumber berbagai kearifan lokal untuk kemanusiaan dan pengelolaan lingkungan yang lebih baik diabntaranya dapat ditemukan disuku aitinyo, arfak,asmat,agast,aya maru, mandacan, biak, ami, sentani, dan lain-lain.

Keagamaan merupakan salah satu aspek yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat dipapua dan dalam hal kerukunan antar umat beragama disana dapat dijadikan contoh bagi daerah lain, mayoritas penduduknya beragama kristen, namun demikian sejalan dengan semakin lancarnya transportasi dari dan ke papua, jumlah orang agama lain pun termasuk islam juga semakin berkembang. Nbanyak misionaris yang melakukan misi keagamaan dipadalaman-pedalaman papua. Mereka memainkan peran penting dala membantu masyarakat, baik melalui sekolah misionaris, balai pengobatan maupun pengetahuan praktis lainnya. Misionaris merupakan pelopor dalam membuka jalur penerbangan ke daerah-daerah pedalaman yang belum terjangkau oleh penerbangan reguler.

Kesimpulan dan Saran

GORONTALO:

Kota Gorontalo dan wilayah sekitarnya dihuni oleh beragam suku, yaitu Suku Gorontalo, Suku Bugis, Suku Polahi, Suku Jawa, Suku Makassar, Suku Bali, Suku Minahasa, dan Tionghoa. Suku asli Gorontalo memiliki warisan kebudayaan. Bebeapa di antaranya adalah rumah adat yang berarsitektur indah. Setiap tahun, beragam suku di Gorontalo menampilkan warna-warni kebudayaan mereka dalam Festival Otanaha.

Kebudayaan asli Gorontalo sangat kental dipengaruhi oleh agama Islam. Orang Gorontalo mengawinkan unsur adat dan agama secara cantik. Lihatlah tradisi tumbilotohe, yaitu tradisi membuat Kota Gorontalo gemerlap dengan lentera setiap malam lebaran. Dalam pesta perkawinan, masyarakat Gorontalo menyanyi dan menari dengan musik rebana dan syair doa.

Tetapi perlu diingat bahwa kebudayaan Gorontalo semakin hari semakin memudar oleh karena itu perlu diadakan pelestarian budaya daerah Gorontalo, agar warisan budaya tetap eksis dan dapat dinikmati oleh generasi-generasi berikutnya.

SARAN

Di akhir penulisan makalah ini , penulis menyarankan kepada pembaca khususnya teman-teman praja agar dapat lebih memahami kebudyaan-kebudayaan gorontalo. Karena mempelajari budaya daerah lain akan membuat kita memperoleh tambahan ilmu baik dari sisi sosiologis maupun segi budaya.

PAPUA:

Sebagai kesimpulan dari penjelasan-pejelasan diatas ialah bahwa kita harus bercermin pada masyarakat tradisioanal untuk menata hubungan kita dengan alam demi keberlanjutan mahluk hidup manusia. Masyarakat tradisional telah berhasil mewariskan bumi dalam keadaan tidak tercemar kepada kita diwaktu sekarang untuk memanfaatkan dan menikmati kehidupan diatasnya.

Keberhasilan itu merupakan perwujudan nyata dari ketaatan mereka terhadap nilai-nilai dan norma-norma serta sikap yang mereka kembangkan dalam kebudayaannya untuk menjaga dan melestarikan alam. Seringkali norma-norma dan nilai-nilai itu mereka samarkan dalam kepercayaan-kepercayaan yang mereka anggap anut sehingga bagi kebanyakan orang dizaman modern ini menganggapnya tidak rasional dan bahkan kadangkala mencemoohkannya. Meskipun demikian janga lupa, bahwa strategi-strategi yang mereka gunakan untuk menanamkan dan melaksanakan nilai-nilai dan norma-norma yang berhubungan dengan pengaturan dan penjagaan terhadap keseimbangan hubungan mahluk manusia dengan ekosistem dalam rangka menyiapkan secara lestari kebutuhan manusia itu adalah sangat efektif.

Saran :

Saya percaya bahwa kita tidak akan mau kalah dengan generasi-generasi pendahulu kita yang disebut masyarakat tradisional itu. Agar dapat berhasil mewariskan bumi kita ini sebagai tempat yang layak dihuni oleh generasi penerus kita, maka kita harus komit untuk saling mendukung dan bahu membahu dakam melaksanakan baebagai upaya pembangunan berkelanjutan secara transparan dan bertanggungjawab.

BAB IV

Referensi

  • Alisyahbana,ST.1981.Pembangunan kebudayaan indonesia ditengah laju ilmu pengetahuan dan teknologi. Jakarta: Prisma No.II(P3ES)
  • Arifin, syamsul.1998. spiritualitas islam dan peradaban masa depan. Yogyakarta: sipress.
  • Koentjaraningrat(1974). Rintangan-rintangan Mental dalam pembangunan Ekonomi di indonesia. Jakarta: bharata.
  • Wonda,sendius.2009. jeritan bangsa: rakyat Papua barat mencari keadilan. Yogyakarta: galang press.
  • Narendra Singh Bisht, T. S. Bankoti,Global Vision Publishing House, 2004. Encyclopaedia of the South East Asian Ethnography, Volume 1

About suhendraroby

saya seorang CEPERIST

Posted on March 6, 2016, in Indonesia_people. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: